Hujan. Hujan. Hujan.
Mendung terus menggelayut
Kau menjemput rinduku
Sayang, hujan!
Hujan, sayang!
Tetesan demi tetesan mewakiliku
seolah langit rindu pada bumi
bau angin dengan rasa tanah lembab
melepas kerinduan itu
Kulihat air berselancar di kaca jendela
memercik melubangi tanah
Air dan tanah saling berpagut
Mataku menatapnya
Merasakan kemelut rindu yang merebak di dada
Lalu kapan aku bisa menghempas rinduku sendiri?
--homesick--
"Indahmu tak seindah pikirmu, cerahmu tak secerah matamu. Tapi kau tahu kau salah, mengapa kau membisu?"
Jumat, 03 Februari 2012
Rindu. Hujan.
Rabu, 01 Februari 2012
Aku dan Duniaku
Aku dan duniaku.
Tak semua tentang klasika, seriosa dan replika dunia nyata.
Tak semua tentang goresan yang kusuka.
Ada pun juga hura-hura.
Yang meninggalkan serpihan kisah yang terlupa.
Serpihan yang bila dikais, akan berkilat
melenting untuk menjadi sebuah makna.
Aku dan duniaku
Bersua saat pertama membuka mata.
Memilih saat aku berangkat remaja.
memutuskan saat aku beralih usia.
Aku bersua cerita dari kisruh dunia
merebak hingga duka berselimut air mata
Aku dan duniaku
Tak jumpa apa-apa kala aku ternganga
Banyak tanya yang menggenang di kepala
Tak semua tentang klasika, seriosa dan replika dunia nyata.
Tak semua tentang goresan yang kusuka.
Ada pun juga hura-hura.
Yang meninggalkan serpihan kisah yang terlupa.
Serpihan yang bila dikais, akan berkilat
melenting untuk menjadi sebuah makna.
Aku dan duniaku
Bersua saat pertama membuka mata.
Memilih saat aku berangkat remaja.
memutuskan saat aku beralih usia.
Aku bersua cerita dari kisruh dunia
merebak hingga duka berselimut air mata
Aku dan duniaku
Tak jumpa apa-apa kala aku ternganga
Banyak tanya yang menggenang di kepala
Senin, 16 Januari 2012
Menemani Sang Teman, hingga Bolang tanpa Arah
2 hari ini aku ke bandung (14-15/1). Aku hendak mengantarkan temanku, Puti yang akan tes di Sari Asih. Setidaknya aku memastikannya jauh datang dari Padang dan berlabuh di asrama Poltek Pos Sari Asih dengan aman. Jadilah hari sabtu sore kami berangkat dengan nekad karena aku sendiri buta Bandung. Travel penuh, kami pun naik taksi ke Pasar Rebo. Dari sana kami naik Bus Primajasa tujuan Bandung. Selama lebih kurang 2 jam perjalanan, dengan banyak cerita di sepanjang jalannya, kami sama-sama bersemangat punya pengalaman seperti ini. Apalagi lama tak berjumpa dengannya. Aku senang dapat melakukan sesuatu untuknya.
Lalu tibalah kamu di terminal Leuwipanjang, Bandung. Tujuan sebenarnya adalah Jatinangor, di mana Dharma, temanku yang lainnya, sudah menyiapkan penginapan untuk kami. Tapi tenyata Puti dapat tawaran untuk menginap di rumah teman sesama ikut tes yang sudah lebih dulu tiba di Bandung. Kami pun dilema memilih di mana kami akan bermalam. Setelah hampir 1 jam kami mendiskusikan, kami pun berpisah. Puti menghubungi saudaranya untuk dijemput dan aku pun terus berlanjut naik taksi ke Jatinangor. Meski sedikit berat melepas temanku begitu saja, yang niatnya keesokan harinya aku yang akan menemaninya ke Sari Asih, aku duduk menerawang di dalam taksi. Kami tetap keep contact.
Dharma telah menunggu di Jatinangor rupanya. Suasana malam Nangor yang dingin mengingatkanku dengan kampung halaman. Bertemu teman lama nan jauh juga menyegarkan otakku kembali. Aku menginap di kost-an pacarnya, Karin. Baru berkenalan malam itu. Tapi dia baik sekali mau meminjamkanku kamarnya 1 malam untukku. Lelah pun berujung lelap. Berselimut dingin, aku pun pulas.
Keesokan harinya, aku yang belum punya rencana apa-apa, masih bingung mau ke mana. Dharma banyak menyarankan tempat yang bisa kukunjungi. Kami pun menunggu Andri, temanku yang berjanji akan menemani tripku di Bandung, seraya sarapan.
Andri baru bisa datang sekitar pukul 12 siang. Garing dan tidak tahu mau ke mana, kami cuma bersantai saja di kamar dharma yang terbuka ditemani hujan yang turun perlahan. Sejuta rencana di kepala tak ada yang terlaksana.
Kami mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari acara televisi, kuliah, dunia kerja, persaingan media, isu politik, sampai ke pemberitaan jatuhnya satelit Rusia. Mungkin karena lama tak bertemu, kami bertiga bercengkerama sambil menertawakan hidup yang dijalani masing-masing. Seru juga.
Sepertinya kedatanganku ke Bandung dan Jatinangor tak begitu sia-sia. Tak jadi mengantar puti ke asrama, tak masalah. Cukup tergantikan dengan nongkrong dan membicarakan berbagai isu di sebuah kost-kost-an. Itu kesan yang berharga. Setidaknya aku tahu, mereka bisa menjadi tempat singgahku kala aku jenuh dengan Jakarta dan bersafari ke Jatinangor. Terima kasih teman.
Lalu tibalah kamu di terminal Leuwipanjang, Bandung. Tujuan sebenarnya adalah Jatinangor, di mana Dharma, temanku yang lainnya, sudah menyiapkan penginapan untuk kami. Tapi tenyata Puti dapat tawaran untuk menginap di rumah teman sesama ikut tes yang sudah lebih dulu tiba di Bandung. Kami pun dilema memilih di mana kami akan bermalam. Setelah hampir 1 jam kami mendiskusikan, kami pun berpisah. Puti menghubungi saudaranya untuk dijemput dan aku pun terus berlanjut naik taksi ke Jatinangor. Meski sedikit berat melepas temanku begitu saja, yang niatnya keesokan harinya aku yang akan menemaninya ke Sari Asih, aku duduk menerawang di dalam taksi. Kami tetap keep contact.
Terlintas di benak, "Yasudah, tugasku menemani Puti. Daripada dia kebingungan di tengah kota yang tidak dia kenal, aku lebih baik mempercayakannya pada omnya. Sedangkan aku bisa bertemu temanku di Jatinangor yang juga lama tak bersua. Yap, sendiri tak masalah. AKu bisa menikmatinya." Oke, enjoy the holiday.
Dharma telah menunggu di Jatinangor rupanya. Suasana malam Nangor yang dingin mengingatkanku dengan kampung halaman. Bertemu teman lama nan jauh juga menyegarkan otakku kembali. Aku menginap di kost-an pacarnya, Karin. Baru berkenalan malam itu. Tapi dia baik sekali mau meminjamkanku kamarnya 1 malam untukku. Lelah pun berujung lelap. Berselimut dingin, aku pun pulas.
Keesokan harinya, aku yang belum punya rencana apa-apa, masih bingung mau ke mana. Dharma banyak menyarankan tempat yang bisa kukunjungi. Kami pun menunggu Andri, temanku yang berjanji akan menemani tripku di Bandung, seraya sarapan.
Andri baru bisa datang sekitar pukul 12 siang. Garing dan tidak tahu mau ke mana, kami cuma bersantai saja di kamar dharma yang terbuka ditemani hujan yang turun perlahan. Sejuta rencana di kepala tak ada yang terlaksana.
Kami mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari acara televisi, kuliah, dunia kerja, persaingan media, isu politik, sampai ke pemberitaan jatuhnya satelit Rusia. Mungkin karena lama tak bertemu, kami bertiga bercengkerama sambil menertawakan hidup yang dijalani masing-masing. Seru juga.
Sepertinya kedatanganku ke Bandung dan Jatinangor tak begitu sia-sia. Tak jadi mengantar puti ke asrama, tak masalah. Cukup tergantikan dengan nongkrong dan membicarakan berbagai isu di sebuah kost-kost-an. Itu kesan yang berharga. Setidaknya aku tahu, mereka bisa menjadi tempat singgahku kala aku jenuh dengan Jakarta dan bersafari ke Jatinangor. Terima kasih teman.
Selasa, 03 Januari 2012
Kemeriahan Firework
Tahun baru bertabur kembang
kembang yang berbinar
kembang api
tar tar tar
menembus telinga dengan suara nyaring
mengejutkan dada yang berdegup kencang seketika
membuat langit menjadi warna warni
percikan percikan api yang mengembang di langit sana
layar abu-abu berhias titik-titik yang menyala
dinantikan sejuta umat
penuh harap, penuh berkah
gegap gempita
itulah kemegahan di tahun yang baru
mengawali tahun dengan super indah
dan semoga pun berakhir penuh hikmah
Selasa, 27 Desember 2011
Petikan Puisi dalam Dead Poets Society
"Kita bermimpi tentang esok, dan esok tak pernah ada;
Kita bermimpi tentang kebanggaan yang tak benar-benar kita inginkan.
Kita bermimpi tentang hari baru ketika hari baru sudah tiba.
Kita lari dari peperangan ketika peperangan itu harus kita perjuangkan.
Kita mendengarkan panggilan namun tak pernah benar-benar memperhatikan,
Berharap akan masa depan ketika masa depan hanya direncanakan.
Bermimpi tentang kebijakan yang kita hindari setiap hari.
Berdoa bagi datangnya juru selamat ketika keselamatan ada di tangan kita.
Dan masih saja kita terlelap.
Dan masih saja kita terlelap.
Dan masih saja kita berdoa.
Dan masih saja kita takut...."
Kita bermimpi. Wajib.
Saya tergugah membaca puisi ini, di dalam sebuah novel yang sudah berulang kali saya baca, Dead Poets Society. Novel ini seakan tak pernah habis saya korek setiap sisi makna di dalamnya.
Lalu puisi ini, menyentil kita semua. Kita bermimpi tapi kita tak pernah menyadari bahwa mimpi itu dekat. Kita selalu sibuk dengan masalah. Padahal masalah itu sudah pasti ada. Masalah itu untuk dihadapi, bukan untuk ditinggalkan lantas kabur.
Saat bermimpi, kita terlalu takut dengan kenyataan di masa depan. Kita terlalu takut untuk memikirkan rintangan apa saja yang akan dihadapi. KIta juga tak pernah berpikir bahwa langkah yang sudah kita pilih itu justru sewaktu-waktu dapat menyelewengkan mimpi itu sendiri.
Puisi ini nyata karena menatap realita. Realitanya adalah kita selalu memikirkan hal-hal yang membuat kita sendiri tak sanggup untuk mencobanya. KIta cenderung memikirkan seuatu yang muluk, padahal sesuatu itu belum tentu ada atau mungkin sesuatu itu ada tapi tak seperti yang kita harapkan. Bermimpi bukan berarti hidup selalu aman dan nyaman. Tapi tak perlu pula kita takut.
Hari esok pasti akan datang. Dan bukan tugas kita untuk mengklaim akan seperti apa hari ini. Kita hanya perlu menjalaninya saja.
Kutipan puisi dari Dead Poets Society yang menginspirasi.
Kita bermimpi tentang kebanggaan yang tak benar-benar kita inginkan.
Kita bermimpi tentang hari baru ketika hari baru sudah tiba.
Kita lari dari peperangan ketika peperangan itu harus kita perjuangkan.
Kita mendengarkan panggilan namun tak pernah benar-benar memperhatikan,
Berharap akan masa depan ketika masa depan hanya direncanakan.
Bermimpi tentang kebijakan yang kita hindari setiap hari.
Berdoa bagi datangnya juru selamat ketika keselamatan ada di tangan kita.
Dan masih saja kita terlelap.
Dan masih saja kita terlelap.
Dan masih saja kita berdoa.
Dan masih saja kita takut...."
Kita bermimpi. Wajib.
Saya tergugah membaca puisi ini, di dalam sebuah novel yang sudah berulang kali saya baca, Dead Poets Society. Novel ini seakan tak pernah habis saya korek setiap sisi makna di dalamnya.
Lalu puisi ini, menyentil kita semua. Kita bermimpi tapi kita tak pernah menyadari bahwa mimpi itu dekat. Kita selalu sibuk dengan masalah. Padahal masalah itu sudah pasti ada. Masalah itu untuk dihadapi, bukan untuk ditinggalkan lantas kabur.
Saat bermimpi, kita terlalu takut dengan kenyataan di masa depan. Kita terlalu takut untuk memikirkan rintangan apa saja yang akan dihadapi. KIta juga tak pernah berpikir bahwa langkah yang sudah kita pilih itu justru sewaktu-waktu dapat menyelewengkan mimpi itu sendiri.
Puisi ini nyata karena menatap realita. Realitanya adalah kita selalu memikirkan hal-hal yang membuat kita sendiri tak sanggup untuk mencobanya. KIta cenderung memikirkan seuatu yang muluk, padahal sesuatu itu belum tentu ada atau mungkin sesuatu itu ada tapi tak seperti yang kita harapkan. Bermimpi bukan berarti hidup selalu aman dan nyaman. Tapi tak perlu pula kita takut.
Hari esok pasti akan datang. Dan bukan tugas kita untuk mengklaim akan seperti apa hari ini. Kita hanya perlu menjalaninya saja.
Kutipan puisi dari Dead Poets Society yang menginspirasi.
Selasa, 20 Desember 2011
Jangan Main-main dengan Mimpimu
Apa yang kita impikan akan menjadi doa untuk masa depan. Apapun itu, hal terkonyol sekalipun dapat menjadi sebuah mimpi nyata yang terkabul. Seperti kata Andrea Hirata,
Dalam hidup yang perlu dilakukan adalah bermimpi. Berani bermimpi, mempunyai harapan, dan berangan-angan untuk meraih semuanya. Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Kita hanya tinggal bermimpi, apa susahnya? Tunggu apa lagi?
Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.Lalu kita juga sering dengar, perkataan adalah doa.
Dalam hidup yang perlu dilakukan adalah bermimpi. Berani bermimpi, mempunyai harapan, dan berangan-angan untuk meraih semuanya. Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Kita hanya tinggal bermimpi, apa susahnya? Tunggu apa lagi?
Tentang Ibu
Di sini aku ingin berbicara tentang ibu, khususnya ibuku. Lumrah sudah ibu adalah sosok terdekat dan luar biasa. Tapi ibuku lebih luar biasa lagi. Aku menyebutnya bundo.
Satu hal yang aku kagumi darinya adalah di umurnya yang hampir setengah baya ini, bundo masih punya impian. Beliau masih merancang mimpi-mimpinya untuk menjadi nyata. Di saat ibu-ibu yang lain mempersiapkan hari tua mereka denga hidup tenang dan tersenyum melihat kesuksesan anak-anak mereka, bundo justru masih terus berjuang untuk mengumpulkan puzzle di setiap momen berharga dalam hidupnya. Dia tak pernah mau untuk berhenti sebelum rencana-rencananya terlaksana.
Aku kagum padanya. Di balik sosoknya sebagai ibu yang melahirkan dan membesarkanku, aku bangga mengenalnya sebagai orang terdekat yang pantas kuteladani. Semangatnya luar biasa. Bahkan berkali-kali diterpa badai yang meruntuhkan asa, bundo tetap tegar. Kepercayaan dirinya dan keyakinannya yang tinggi membentuk tekadnya dan karakternya yang keras.
Bundo adalah seorang ibu dan juga guru. Di samping itu, bundo adalah seorang koreografer. Bundoku seniman. Puluhan karya sudah dihasilkannya. Meski masih ada yang memandangnya sebelah mata, bundo tidak peduli. Yang ia pikirkan hanya berkarya, berkarya, dan terus berkarya. Gerak adalah hidupnya, dan pentas adalah napasnya. Itulah yang membuatnya tetap sehat. Karya adalah obat kesakitannya. Bundo pun selalu mengajarkan hal itu padaku. Jangan pernah berhenti sebelum kita benar-benar lelah. Jangan tunggu orang lain untuk bertindak. Selagi kita mampu, lakukan sendiri.
Di satu sisi aku bangga. Di sisi lain aku iri. Itu yang membuatku tak mengerti diriku sendiri. Bundo yang sudah kepala empat masih punya agenda berharga untuk hidupnya. Sedangkan aku? Aku perlu mempertanyakan itu kepada diriku sendiri. Aku juga ingin terus berkarya. Seperti bundo.Bahkan ingin lebih baik dari pencapaiannya. Agar bundo tak sia-sia melahirkanku. Agar bundo juga bangga padaku.
Satu hal yang aku kagumi darinya adalah di umurnya yang hampir setengah baya ini, bundo masih punya impian. Beliau masih merancang mimpi-mimpinya untuk menjadi nyata. Di saat ibu-ibu yang lain mempersiapkan hari tua mereka denga hidup tenang dan tersenyum melihat kesuksesan anak-anak mereka, bundo justru masih terus berjuang untuk mengumpulkan puzzle di setiap momen berharga dalam hidupnya. Dia tak pernah mau untuk berhenti sebelum rencana-rencananya terlaksana.
Aku kagum padanya. Di balik sosoknya sebagai ibu yang melahirkan dan membesarkanku, aku bangga mengenalnya sebagai orang terdekat yang pantas kuteladani. Semangatnya luar biasa. Bahkan berkali-kali diterpa badai yang meruntuhkan asa, bundo tetap tegar. Kepercayaan dirinya dan keyakinannya yang tinggi membentuk tekadnya dan karakternya yang keras.
Bundo adalah seorang ibu dan juga guru. Di samping itu, bundo adalah seorang koreografer. Bundoku seniman. Puluhan karya sudah dihasilkannya. Meski masih ada yang memandangnya sebelah mata, bundo tidak peduli. Yang ia pikirkan hanya berkarya, berkarya, dan terus berkarya. Gerak adalah hidupnya, dan pentas adalah napasnya. Itulah yang membuatnya tetap sehat. Karya adalah obat kesakitannya. Bundo pun selalu mengajarkan hal itu padaku. Jangan pernah berhenti sebelum kita benar-benar lelah. Jangan tunggu orang lain untuk bertindak. Selagi kita mampu, lakukan sendiri.
Di satu sisi aku bangga. Di sisi lain aku iri. Itu yang membuatku tak mengerti diriku sendiri. Bundo yang sudah kepala empat masih punya agenda berharga untuk hidupnya. Sedangkan aku? Aku perlu mempertanyakan itu kepada diriku sendiri. Aku juga ingin terus berkarya. Seperti bundo.Bahkan ingin lebih baik dari pencapaiannya. Agar bundo tak sia-sia melahirkanku. Agar bundo juga bangga padaku.
Langganan:
Postingan (Atom)



