"Indahmu tak seindah pikirmu, cerahmu tak secerah matamu. Tapi kau tahu kau salah, mengapa kau membisu?"

Minggu, 24 Maret 2013

Rumah Itu Kamu

Tak ada kata sesulit ini
Begitu banyak sua-ku dengan kata
sua-ku dengan makna
Tapi kataku sua-mu
Berderet dalam rekam panjang pikiranku
Salahku jika sederet kata ini
belum kumaknai?
Tinta pena pun tak mumpuni menyambangi

Kataku adalah sua-mu
Sua dengan mu
Kataku adalah rumahku
Rumahku adalah kamu

Tebet, dini hari, 240313
Sansadhia

Senin, 25 Februari 2013

Harry Potter #2: Bisikan Maut Basilisk


Sebuah Review Buku seri Kedua Harry Potter.

Harry Potter dan Kamar Rahasia
Judul asli: Harry Potter and The Chamber of Secrets


The Story
Adalah mimpi buruk bagi Harry Potter yang harus menghabiskan liburan musim panas di rumah keluarga Dursley. Hal yang paling dinantikannya adalah tanggal masuk sekolah karena cuma sekolah sihir Hogwarts yang memberikan rasa nyaman dan kegembiraan padanya, terlebih lagi dengan adanya 2 sahabat, Ron Weasley dan Hermione Granger.

Eits, tunggu dulu. Kenapa mereka tidak mengirimkan surat via pos burung hantu satu pun sejak liburan dimulai buat Harry? Usut diusut, ternyata ulah Dobby si peri rumah yang sengaja menyembunyikan semua surat yang dialamatkan pada Harry Potter.

Meski mereka belum saling kenal, Dobby yang kagum dengan Harry Potter berniat menahan Harry untuk kembali ke sekolah. Dobby mengetahui sebuah rencana gelap yang didengarnya dari tuannya, keluarga tempat ia mengabdi, menyangkut keselamatan Harry. Sebuah Kamar Rahasia di Hogwarts akan dibuka. Itu pertanda bahwa Pangeran Kegelapan mengincar nyawa Harry Potter.

Dobby terus berusaha menahan Harry untuk naik Hogwarts Ekspress. Namun, Harry bersama Ron memilih menggunakan mobil terbang milik Ayah Ron ke Hogwarts. Usaha Dobby tidak berhenti sampai di situ. Misi penyelamatan Dobby justru hampir mencelakakan nyawa Harry. Namun, masih ada bahaya lebih besar yang dihadapi Harry di tahun keduanya itu.

Serangkaian peristiwa teror terjadi di Hogwarts. Harry mendapati beberapa murid di Hogwarts membatu, termasuk Hermione. Harry pun mendengar suara-suara bisikan mirip suara ular, tapi anehnya cuma dia yang mendengar. Siapa yang menyebabkan itu terjadi? Teror itu mengarah pada dibukanya Kamar Rahasia yang konon cuma menjadi legenda di Hogwarts. Lalu apa hubungannya dengan Ginny Weasley?

Review
Harry Potter dan Kamar Rahasia adalah seri kedua dari novel fantasi karangan JK Rowling. Novel ini menceritakan petualangan Harry Potter pada tahun keduanya di Hogwarts. Tentu saja dengan dibantu oleh 2 sahabatnya, Ron Weasley yang setia dan Hermione Granger yang cerdas. Seperti novel sebelumnya yang penuh karakter, JK Rowling  memperkenalkan karakter baru yang peranannya amat penting di sepanjang cerita. Gilderoy Lockhart menjadi Guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang tampan dan ditaksir banyak murid perempuan termasuk Hermione. Namun, Gilderoy yang gila popularitas, justru sebenarnya menutupi kelemahan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa dan seorang penipu. Bagi Harry dan Ron, Profesor Lockhart adalah guru yang menyebalkan.

Di seri kedua ini kita mendapati petualangan Harry semakin gelap dan berbahaya. Namun semua itu tidak menciptakan kesan horror dalam ceritanya karena berbagai kekonyolan yang dilakukan Ron Weasley, kepintaran Hermione yang kadang-kadang agak menyesakkan, serta hiburan dari Fred dan George Weasley, saudara Ron yang iseng.  Selain itu masih ada pertandingan Quidditch, tugas-tugas sekolah yang banyak, serta kenyamanan ruang rekreasi yang selalu ramai.

Tapi pada intinya semua peristiwa saling terkait mengantarkan kita ke petualangan Harry melawan Basilisk. Kehadiran Dobby yang tiba-tiba, kesukaan Hagrid pada satwa-satwa gaib, tingkah Draco Malfoy yang selalu memusuhi Harry, ke-soktahu-an Profesor Lockhart, serta kebijaksanaan Dumbledore. Harry tidak bisa tinggal diam karena Hermione jadi salah satu korban. Dia juga penasaran dengan segala bisikan-bisikan di kepalanya. Harry makin terdesak untuk bertindak saat mengetahui Ginny Weasley dibawa ke Kamar Rahasia.

JK Rowling sangat pintar membangun alur cerita dari awal sampai akhir. Walaupun sudah membaca berulang kali, tetap saja saya sering dibuat terkejut dengan alurnya. Rasa penasaran saat membaca dimulai dari kemunculan Dobby di Privet Drive. Menurut saya, buku kedua ini tergolong pada kisah misteri yang baru terjawab di bagian akhir. Tentu saja berbeda dengan novel pertamanya yang masih tahap pengenalan karakter dan lika liku dunia sihir melalui sekolah Hogwarts.

Magic Quote

Jangan pernah mempercayai apa saja yang bisa berpikir sendiri kalau kau tidak bisa melihat di mana otaknya disimpan.

Yang terbaik dari kita pun kadang-kadang harus menarik kembali kata-katanya.

Pilihan kitalah yang menunjukkan orang seperti apa sebenarnya kita, lebih dari kemampuan kita.


Review ini diikutkan dalam event Hotter Potter Reading Event.

Senin, 28 Januari 2013

Harry Potter #1: dari Bocah Culun Menjadi Anak-Yang-Bertahan-Hidup


Sebuah Review Buku seri Pertama Harry Potter.
Judul Asli : Harry Potter and The Sorcerer's Stone
Judul Terjemahan : Harry Potter dan Batu Bertuah
Pengarang : J.K. Rowling
Tahun terbit (pertama kali) : 2000


Sinopsis
Harry Potter, bocah 11 tahun yang tinggal di Privet Drive secara tak terduga mendapati dirinya adalah seorang penyihir. Bukan tanpa sebab, karena sebenarnya dia punya orang tua penyihir hebat sebelum mereka meninggal. Harry Potter tidak mengetahui apa-apa tentang sejarah orang tuanya itu. Dia yang diasuh oleh paman dan bibinya, keluarga Dursley, tidak pernah diberitahu soal itu karena telah dianggap aib keluarga.

Sampai pada suatu hari, Harry menerima surat dari sekolah sihir Hogwarts yang menyatakan dirinya telah terdaftar di sekolah itu dan akan mulai belajar di sana tahun ajaran baru. Hagrid (kelak menjadi teman Harry) yang menjemput Harry untuk mengantarnya membeli perlengkapan sekolah menjelaskan panjang lebar tentang kemampuan tak terduga di dalam diri Harry Potter itu, serta bagaimana ia bisa mendapat bekas luka berbentuk sambaran petir di dahinya.

Mulai hari itu, kehidupan Harry pun berubah, bukan anak culun, muggle (sebutan penyihir untuk manusia non-penyihir), dan polos lagi. Mulai saat itu pula, Harry Potter mendapati dirinya istimewa karena dia terkenal sejak lahir lantaran ia adalah anak yang bertahan hidup dari serangan maut penyihir gelap dan ditakuti, Lord Voldemort. Mendapati identitas baru dirinya yang tiba-tiba itu membuat Harry canggung. Namun, di sisi lain, Harry menemukan kehidupan dan keluarga baru di Sekolah Sihir Hogwarts. Harry mulai akrab dengan Ron dan Hermione, teman seasramanya di Menara Gryffindorr.

Ada lebih banyak lagi kejutan di sekolahnya yang baru, Hogwarts. Salah satunya adalah bahwa dia memiliki bakat alam untuk menjadi Seeker (pencari Snitch) dalam permainan Quidditch (Olahraga sihir mirip sepak bola yang dimainkan di atas sapu terbang).

Jalannya tidaklah mulus. Harry seringkali mendapatkan hukuman karena dianggap bermasalah, melanggar jam malam, dan seringkali kedapatan berkelahi dengan Draco Malfoy, musuhnya dari asrama Slytherin. Harry juga menemui kesulitan dengan pelajaran-pelajaran baru yang tidak mudah, apalagi pelajaran Ramuan lantaran gurunya, Profesor Snape punya dendam pribadi kepadanya. Akan tetapi semua itu belum apa-apa dibanding saat Harry dihadapkan dengan Voldemort untuk kedua kalinya.

Review
Saat membaca ulang kisah Harry Potter yang pertama ini saya menemukan sensasi baru, seakan baru membaca pertama kali. Bedanya, saya sudah lebih dulu tahu inti ceritanya. Tapi tetap saja, pertama kali mengenal Harry Potter itu sekitar tahun 2001. Saya dapat menyerap kisah dari novel keren ini dari sudut pandang saya yang masih anak-anak waktu itu. Saat baru saja membaca ulang, terasa sekali riak-riak emosi dari setiap karakternya. Saya tidak bisa bohong, bahwa saya kembali terhanyut dengan petualangan Harry, Ron, dan Hermione ini. JK Rowling, saya akui, adalah penulis luar biasa dengan imajinasinya menghadirkan beragam karakter dengan detail serta setting dan alur yang konsisten.


Di Harry Potter dan Batu Bertuah ini, pembaca diperkenalkan karakter satu demi satu, tak terkecuali keluarga Dursley yang menyebalkan dan guru-guru Hogwarts yang beragam. Di sini saya menyadari, JK Rowling itu hebat dalam menyelipkan narasi karakternya tanpa membuat pembaca bosan. Tutur bahasa penerjemah yang lugas juga mempengaruhi pengisahannya.

Tokoh Harry Potter digambarkan sebagai tokoh yang tidak terlalu pintar dalam pelajaran tetapi memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berani, dan setia kawan.  Karakter Ron Weasley yang menjadi sahabatnya serta Hermione Granger yang cerdas tetapi sedikit menyebalkan mengisi ruang emosi kita pada saat membaca kisah ini.

JK Rowling telah memikirkan berbagai aspek sihir yang dimasukkannya ke dalam novel pertama ini. Perlahan, kita pun mendapatkan setting dan tokoh yang nantinya akan mengambil peranan besar di buku-buku selanjutnya, seperti kehadiran Ginny Weasley saat mengantar kakak-kakaknya ke Hogwarts Ekspress dan bertemu dengan Harry Potter. Di novel-novel berikutnya tentu saja Ginny akan selalu muncul hingga seri terakhir. Begitulah cara JK Rowling menjaga karakternya dengan baik untuk dikeluarkan sesuai porsinya di masing-masing novel, sehingga tidak ada karakter yang sia-sia dari sekian banyak deretan karakter yang dimunculkannya.

Novel pertama ini memberikan makna tentang keberanian, kebulatan tekad, cinta, dan persahabatan.

Magic Quotes
Buku seri pertama ini menyimpan banyak magic quote yang bisa kita maknai

Musik lebih magis dari segala yang kita pelajari di sini.

Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa dialami bersama tanpa kalian jadi saling menyukai

Tak ada gunanya memikirkan impian berlama-lama sampai lupa hidup

Kerja keras dan penderitaan adalah guru yang paling baik

Ada bermacam-macam keberanian, perlu banyak keberanian untuk menghadapi lawan, tetapi diperlukan keberanian  yang sama banyaknya untuk menghadapi kawan-kawan kita

Dalam hidup ini kita tidak bisa mendapatkan segalanya

Bagi pikiran yang terorganisir dengan baik, kematian hanyalah petualangan besar berikutnya

Uang dan kehidupan adalah hal yang akan dipilih kebanyakan orang, melebihi segalanya yang kauinginkan, sulitnya orang biasanya justru memilih hal yang paling buruk untuk mereka

Selalu gunakan nama yang benar untuk apa saja. Ketakutan akan nama memperbesar ketakutan akan benda itu sendiri.

Kebenaran itu indah dan mengerikan. Karenanya harus diperlakukan dengan amat hati-hati.

Dicintai begitu daam, meskipun orang yang mencintai kita sudah tiada, akan memberi kita perlindungan untuk selamanya. Sungguh penderitaan menyentuh orang yang dilindungi oleh sesuatu yang sangat baik.


Review ini diikutkan dalam event Hotter Potter



Rabu, 16 Januari 2013

Sepotong Senyum untuk Sahabat

Sepotong senyum untuk sahabat
mengamini sejuta doa
Tak ada alasan untuk tak bahagia

Sepotong musim untuk sahabat
turut mengantarmu ke suatu hari yang dinanti
tersedia lembar kosong pengawal kisah

hari menepi
senja pun mengerti
labuhan bertepi hati
pun akhirnya tempat berpisah kita
demi segurat harapanmu berdua

Sepotong mimpi untuk sahabat
sisipkan selembar cerita
untuk kau bagi
kau resapi
bahwa di sini kami ada
bersenda, tertawa, mengirim sejumput nur
untukmu



Sepotong puisi untuk pernikahan sahabatku...

Jumat, 14 Desember 2012

Harry Potter Reading Event



Harry Potter: A Harry Potter Reading Event (Indonesia)

1 Januari - 31 Juli 2013

Senangnya dapat mengenang kembali kisah ini. Harry Potter gak pernah basi. Mari baca ulang lagi novelnya. Harry Potter dalam genggaman.

Jadwal post review 
28 Januari 2013 Buku 1: Harry Potter and the Sorcerer’s Stone
25 Februari 2013 Buku 2: Harry Potter and the Chamber of Secrets
25 Maret 2013 Buku 3: Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
29 April 2013 Buku 4: Harry Potter and the Goblet of Fire
27 Mei 2013 Buku 5: Harry Potter and the Order of the Phoenix
24 Juni 2013 Buku 6: Harry Potter and the Half-Blood Prince
31 Juli 2013 Buku 7: Harry Potter and the Deathly Hallows (bertepatan dengan ulang tahun Harry)

Mari Berfantasi dengan Novel Fantasi

2013 TBBR PILE a Reading Challenge


Iseng-iseng berselancar di blog, aku mendapatkan tantangan untuk membaca 12 novel fantasi selama tahun 2013. Event ini pantas diapresiasi dan aku optimis untuk mengikutinya. Seharusnya bukan hal sulit karena memang aku pencinta fiksi, salah satunya fan-fiction.



Berikut adalah list bacaanku untuk tahun 2013.

1. Charlie Bone Series #1: Midnight for Charlie Bone, karya Jenny Nimmo.

2. The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #1: The Alchemyst, karya Michael Scott.

3. The Hunger Games #2: Catching Fire, karya Suzanne Collins.

4. Spells-Ramuan Peri, karya Aprilynne Pike.


5. Percy Jackson dan Dewa-dewi Olympia #5: Dewa Olympia Terakhir, karya Rick Riordan

6. The Power Of Six, karya Pittacus Lore.

7. The Heroes of Olympus #1: The Lost Hero, karya Rick Riordan.

8. The 13th Reality #2: The Hunt for Dark Infinity, karya James Dashner.

9.  Inkworld #1: Inkheart, karya Cornelia Funke.

10. Artemis Fowl #1: The Arctic Incident, karya Eoin Colfer.

11.  Incarceron #1: Incarceron, karya Catherine Fisher.

12. The Mysterious Benedict Society #2: The Perilous Journey, karya Trenton Lee Steward.


Additional Challenge
1. Indo Fantasy --> Vandaria Saga#1 : Harta Vaeran, karya Pratama Wirya Atmaja.

2. Award Winner --> Abarat : Siang-Siang Magis, Malam-Malam Peperangan, karya Clive Barker.

3. Mythology --> Kane Chronicles #1: The Red Pyramid, karya Rick Riordan.

4.Movies Adaptation --> The Hunger Games, karya Suzanne Collins.

5. High Fantasy --> Harry Potter #7: Harry Potter dan Relikui Kematian, karya J.K. Rowling.


NB. List ini dapat berubah seiring berjalannya waktu.


Rabu, 08 Agustus 2012

Mimpi yang Sempurna dalam Ketiadaan

            Badannya begitu lincah menguasai panggung sirkus malam itu. Berbagai atraksi dimainkan bersama satu rekannya. Tubuhnya begitu lentur dan lihai memainkan beragam atraksi. Kegesitannya mengitari panggung adalah salah satu bakatnya. Menjadi akrobat sirkus adalah bagian dari hidupnya. Menghibur banyak orang adalah keahliannya. Ya, Adril memang sangat berbakat meski umurnya belum cukup seperempat abad.
            Adril asyik menari-nari di atas panggung bundar. Segala atraksi diperagakan dan dia menikmatinya. Sampai pada atraksi berbahaya, Adril dengan sangat berani meraih sepeda roda satu lalu mengayuhnya keliling panggung. Lalu ia melompat-lompat girang di atas api yang tiba-tiba dinyalakan oleh rekannya. Tak lama setelah itu, lelaki bertubuh lentur ini salto dengan sepedanya dan perlahan memanjat seutas tali yang membentang di panggung setinggi 8 meter. Adril mengayuh sepedanya mendaki tali tersebut makin lama makin tinggi. Tali tersebut bergoyang-goyang ketika roda sepeda itu berputar. Tepuk tangan dan sorakan kagum terus menggetarkan gedung teater, tempat sirkus diadakan.
            Tanpa firasat apa-apa, kejadian tak terduga membuat pekik penonton berubah menjadi jeritan. Adril meraung secara tiba-tiba yang diiringi bunyi gedebuk pelan. Tali mengendur dan lelaki itu mulai kehilangan keseimbangan. Adril melayang dengan sepedanya dan disambut panggung kayu bundar yang cukup keras. Panik pun tak sempat lagi dirasakan, karena yang ada hanya lolongan panjang  yang memenuhi panggung.
Lampu padam. Musik berhenti.

            Kejadian mengerikan ini belum pernah terjadi. Pertunjukan Sirkus Lealta dihentikan begitu saja. Sang produser sirkus tidak mau mengambil risiko lebih besar untuk mempermalukan pertunjukan sirkusnya. Semua bubar. Penonton banyak yang mendesah, terpana bercampur ngeri, kaget, lalu memalingkan muka. Entah bagaimana keadaan Adril yang kini sudah tidak sadarkan diri. Yang pasti bapak produser tampak sangat marah.

            Adril tercenung, meringis, lalu gelap.
           Seorang pria terduduk lemah di kursi roda. Kepalanya menengadah menghadap langit malam tak berbintang. Bulan sayup-sayup mengintip dari balik awan, memperhatikan kegalauan hati si pria itu. Adril termenung. Bibirnya terkatup rapat serapat hatinya yang beku. Sesekali nyanyian jangkrik menyadarkan lamunannya. Dia pun mendesah sambil menelengkan kepalanya yang masih berpenyangga. Malam semakin larut dan dingin.
            Seorang pria tua menyentuh bahu Adril. “Apa yang kau risaukan, Nak?”
            Adril cuma melirik lewat sudut matanya. Bapak produser sirkus rupanya. Adril tak berminat menjawab pertanyaannya.
            Pria tua itu menggeser sebuah bangku dan duduk di sebelah Adril. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya lalu menghisap dengan sepenuh hati. Asap mengepul dari bibirnya mengiringi desahan napasnya.
            Beberapa saat mereka duduk dalam diam sampai Adril membuka pembicaraan.
           “Bagaimana dengan pertunjukan Lealta bulan depan, Yah?”
           “Aman.”
           “Bagaimana dengan polisi?”
           “Mereka terlalu sibuk untuk mengurusi berbagai masalah. Kejadian di sirkus malam itu sudah dibereskan. Kau sudah keluar dari rumah sakit. Larangan show juga sudah dicabut bersyarat. Kita harus kembali beraktivitas,” jelas Bapak produser sambil menyeruput batangan rokoknya lagi dan lagi.
           Adril tak menanggapi. Matanya kembali kosong. Semenjak kejadian di sirkus malam itu, hidup Adril tak sama lagi. Dia kehilangan banyak hal. Adril harus menghabiskan hari-harinya dengan kursi roda selama berbulan-bulan. Tangannya diperban, ada beberapa keretakan di tulang punggungnya, sedangkan tungkai kakinya pun patah. Dia juga mengalami geger otak yang membuatnya tertidur berhari-hari di rumah sakit. Apa yang bisa dilakukan dengan keadaan tubuh rusak seperti itu? Adril hanya seonggok tulang rusak tak berguna yang menghuni rumah sirkus yang didirikan ayahnya.
           Sang ayah berdeham. Ia merasa bersalah mengingatkan anaknya tentang kejadian buruk 2 bulan lalu. Ia kembali menyenggol bahu anaknya dengan lembut. “Sudah malam. Mari tidur,” selorohnya sambil bangkit berdiri dan menghilang di dalam rumah.
           Adril belum beranjak dari teras rumahnya. Hatinya semakin gusar. Ia tahu ayahnya gundah memikirkan kesehatannya dan juga sirkus mereka. Satu hal yang pasti, Adril tidak akan diizinkan lagi memasuki arena sirkus. Pada malam kecelakaan itu, ayahnya sangat marah dengan kelalaian yang terjadi di panggung. Tali yang dilintasi anaknya sudah diikat dengan sangat kuat dan kokoh. Tapi sayangnya, tali itu sudah cukup tua dan sering dipakai untuk properti akrobat. Malang melintang, ikatan tali terputus. Kebetulan pula, yang sedang manaiki tali itu adalah anaknya sendiri. Kini Bapak Produser itu menyesal, karena sirkusnya telah menghancurkan sebagian hidup anaknya. Adril selalu melihat kesedihan di mata ayahnya. Tapi sirkus mereka tak boleh mati, karena itu adalah nadi keluarga. Tanpa sirkus, mereka sekeluarga termasuk ibu dan adik perempuannya tak bisa makan. Tanpa sirkus, Adril tak punya biaya untuk terapi. Kenapa hidup seniman sirkus harus berkahir tragis?
  
Mungkinkah bila ku bertanya
Pada bintang-bintang
Dan bila ku mulai merasa
Bahasa kesunyian


               "Haah..." desah Adril dalam kesendiriannya. Matanya menyapu langit malam. Sepi, sunyi, sendiri.

               Mimpi buruk kembali hadir begitu ayahnya kembali semangat membangun rumah sirkusnya yang berantakan. Semua anggota dikumpulkan. Ayahnya juga mencari beberapa talent baru. Tentu saja untuk mengganti anaknya yang kini setengah cacat. Tenggorokan Adril selalu tercekat memikirkan hal itu. Adril ingin mengungkapkan kemarahannya. Ia marah pada keadaan yang membuatnya hancur.

              Adril menari, Adril melompat.
              Panggung sirkus yang telah menghidupinya selama sepuluh tahun terakhir, kini terasa sangat jauh darinya. Ia lebih banyak diam sejak kecelakaan itu. Ia seperti kehilangan separuh jiwanya. Sirkus adalah hidupnya. Meskipun dulu ibunya sempat menentang dan ayahnya tidak mau Adril ikut pertunjukan, diam-diam Adril tetap maju untuk belajar. Banyak pengalaman yang diperolehnya dari dunia pertunjukan sirkus itu. Kesan buruk dan rendah yang sering melekat pada artis sirkus, akhirnya dapat ditepisnya. Dia adalah anak seorang seniman dan darah seni itu sudah ada di darahnya.
              Ia tertarik pada sirkus bukan lantaran ayahnya sendiri adalah pendiri sebuah kelompok sirkus. Adril sering diajak seru-seruan nonton berbagai pertunjukan hiburan, mulai dari sirkus, teater, musik, dan tari. Pasar malam pun dijabani olehnya. Adril kecil bersama kawanan teman masa kecilnya pasti selalu hadir menunggu atraksi sirkus keliling yang biasa menyemarakkan pasar malam tersebut. Sejak saat itu, Adril kecil tertarik untuk berlatih akrobat. Dimulai dengan lompatan-lompatan ringan, olah otot dan sedikit belajar jenis-jenis breakdance untuk memperkaya referensinya. Meski berbahaya, tetapi ia tertantang. Ayahnya pun menyadari bakat anaknya meski dia sendiri tak begitu menyukai kenyataan itu. Kemudian ketika umurnya tiga belas tahun, ia diberi kesempatan untuk tampil di pertunjukan ayahnya untuk pertama kali. Adril menjadi bagian dari sirkus ayahnya, Rumah Sirkus Lealta. Adril meniti kariernya sebagai akrobat dengan lebih serius. Ia pun lihai melompat dari panggung kecil di tengah kampung hingga panggung besar di sebuah gedung pertunjukan.

              Keadaan berubah seketika. Memang takdir tak bisa diprediksi. Bintang pun tak akan membisiki kapan dia akan terang dan kapan redupnya. Adril dengan sedih mengenang masa-masa indah perjalanannya bersama rombongan sirkus. Tapi kini, Adril ambruk. Tak ada lagi panggung, tak ada lagi keramaian, tak ada kepercayaan diri yang tersisa. Hidupnya telah menghapus mimpinya. Bahkan ia tak lagi percaya kekuatan harapan. Dalam diam, terpana dan terbata, Adril dinaungin keraguan akan hidup.

              Adril bermimpi untuk jadi sempurna
              Adril mengayuh pelan kursi rodanya ke dalam rumah. Sudah dini hari. Kepalanya mulai migrain. Akhir-akhir ini ia sering mengeluh sakit kepala lebih sering daripada sebelum kecelakaan terjadi. Tapi dia masih bersyukur, dia tidak kehilangan ingatan sama sekali.
              Adril masuk ke kamarnya yang berlampu redup. Ia perlahan berdiri dan memindahkan badannya ke tempat tidur. Tungkai kakinya masih terasa nyeri. Dengan sedikit meringis, ia berhasil mendudukkan badannya di kasur yang empuk.
               Sebelum sempat merebahkan diri, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Adik perempuannya, Agil, masuk.
               "Kamu belum tidur rupanya," ucap Adril.
              Agil duduk di sebelah kakaknya. Ia menoleh menatap Adril.
               "Bagaimana terapi tadi siang, Kak?"
               "Lumayan. Masih nyeri sana-sini," sahut Adril datar.
               "Pasti sembuh, Kak," hibur Agil yang kali ini membantu kakaknya rebahan di tempat tidur.
               "Sembuh tapi tidak berguna," desah Adril, lebih kepada dirinya sendiri.
              Agil menyelimuti kakaknya. "Kak Dril tahu arti mimpi? Saat kita bermimpi, bintang-bintang akan berkumpul. Kesempurnaan itu gak akan ada, Kak. Tapi kita bisa bermimpi untuk menjadi sempurna. Bintanglah yang menjamin kita berada di titik terang atau gelap. Bintang akan berkompromi dengan mimpi kita. Cuma 1 hal yang harus kak Dril ingat, sempurna bukan berarti semua terwujud sesuai apa yang kita inginkan. Sempurna artinya hidup kita lebih berarti setelah ini." Seulas senyum terlukis dari wajah adiknya.
             Adril mengikuti gerak Agil yang keluar kamar dengan matanya. Kata-kata motivasi yang dilontarkan adiknya kini tak lagi mempan. Apa arti sempurna? Kesempurnaan baginya hanya sirkus. Bahkan saat ini, untuk berdiri aja, seluruh badannya ngilu. Bagaimana mungkin dia bisa meliuk-liuk, berlari, dan melompat sana-sini? Keretakan di bagian punggung menuntutnya harus pensiun dari dunia akrobat.
             Adril menoleh ke arah jendela kamarnya yang masih terbuka. Langit terlihat mendung pekat. Tak ada penerangan dari bintang. "Ah, bintang pun tak ada di sini saat aku jatuh. Bintang tak akan menjawab pertanyaanku," batinnya. Kepala Adril mulai panas. Rasanya mau pecah karena migrainnya kambuh. Adril belum bisa tidur. Sesekali matanya menoleh ke jendela, sedikit berharap masih ada 1 bintang yang muncul.
            Adril mencoba duduk kembali. Dia menggapai kursi rodanya dengan tangannya yang bebas dari perban. Dengan meringis, Adril mendorong tubuhnya untuk berdiri, berputar dan duduk di kursi roda. Terasa setruman di sendi kakinya. Adril menggigit bibirnya menahan sakit. Ia tidak mau suaranya membanguni orang rumah. Adril mengayuh kursi rodanya ke pintu belakang rumah, membukanya lalu keluar.
              Tepat di belakang rumahnya, ada paviliun tempat properti sirkus disimpan. Adril membuka gerendel pintu dengan kunci yang ada di kantungnya. Setelah menyalakan lampu, Adril menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Paviliun ini adalah tempat Bapak Produser merangkai impiannya untuk membangun kelompok sirkus. Paviliun ini adalah otak dari Rumah Sirkus Lealta. Adril tumbuh di dalamnya.
              Saat dia masuk ke dalam paviliun, ada yang menghambat laju kursi rodanya. Ternyata itu sepeda roda 1 yang sering dimainkannya. Sekelebat bayangan mengerikan tentang malam kecelakaan itu kembali hadir di benak Adril. Kemarahan langsung memanasi dadanya. Dadanya sesak naik-turun. Adril lalu melakukan tindakan yang tak pernah terlintas olehnya. Dia membuka perban tangan dan kakinya dengan cepat. Rasa sakit sudah tidak begitu membuatnya terganggu, seakan sakit sudah menyatu dengan dirinya.     Pandangannya menjadi liar. Ia menghirup oksigen sebanyak-sebanyaknya untuk mengusir kengiluan.
             Terengah-engah, Adril mencoba bangkit dari kursi rodanya. Tak tahu apa yang sedang terpikir olehnya, Adril meraih sepedanya. Tapi tetiba dia pun luruh. Dengkulnya tak kuat menopang tubuhnya. Lutut itu terantuk ke ubin hitam paviliun, menyenggol kursi rodanya. Dengan sekuat tenaga, Adril kembali bangkit berdiri. Kali ini ia bertumpu pada sepedanya, memegangi dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya yang patah menjulai lemah di sisi tubuhnya. Adril mulai jengah.
             "Kalau sempurna itu tak pernah ada, kenapa harus ada mimpi?" teriaknya marah. "Bintang bukan Tuhan. Bintang hanya bulan-bulanan anak kecil."
             Dia berteriak. Dia melangkah dan mencoba menduduki sepeda itu. Tentu saja berulang kali dia ambruk. Namun, berulang kali pula dia mencoba dan terus mencoba. Sampai akhirnya dia duduk menyeimbangkan diri memegangi sepeda itu dengan 1 tangannya yang sehat, lalu kaki kanannya menginjak pedal. Dia memukul-mukul dengkul kirinya yang sakit untuk bergerak. "Ayo dong, harus bisa!" ucapnya samar penuh kemarahan.
             Tidak berhasil. Lagi-lagi dia terduduk di ubin. Kini air mata menetes dari sudut luar matanya. Dia menendang-nendang kursi rodanya. Adril rebah. Lalu dengan tangannya yang bebas, dia memukul-mukulkan stang sepeda di kepalanya. Migrainnya makin hebat.
             Adril terisak. Ketukan stang sepedanya juga makin kencang. Tak peduli kepalanya memar dan mulai berdarah. Dia terus menghantuk-antukkan kepalanya membabi buta, kepala bagian belakang pun ikut dihentak ke ubin. Penyangga lehernya mengendur. Kini bahkan lehernya mati rasa.
             "Anjrit. Argh!"
             Lalu gelap, semua rasa pun sirna.

Aku dan semua
yang terluka karena kita

Aku kan menghilang
dalam pekat malam
lepas ku melayang

Biarlah ku bertanya
pada bintang-bintang
tentang arti kita
dalam mimpi yang sempurna

            Mimpi yang sempurna artinya tiada. Mimpi yang sempurna untuk jiwa yang mati. Mimpi yang sempurna untuk hati yang sepi.



Agustus 2012
@sansadhia
Terinspirasi dari lagu Peterpan, "Mimpi yang Sempurna"
Cerpen ini diikutkan dalam #CerpenPeterpan