"Indahmu tak seindah pikirmu, cerahmu tak secerah matamu. Tapi kau tahu kau salah, mengapa kau membisu?"

Minggu, 21 April 2013

MUBA : Dari Tarian, Musik, dan Silat hingga Peragaan Busana

Dari Indonesia ke MUBA, dari Galang Performing Art ke panggung dunia...

Sebuah kegembiraan dan kebanggaan bagi Galang Performing Art dapat tampil di festival kebudayaan dunia MUBA, di Basel, Swiss. Galang Performing Art (komunitas tari di Sumatera Barat bentukan Deslenda--Ibu saya--tahun 1991) yang telah beradu pengalaman di panggung lokal dan regional, kini mulai menampakkan 'taringnya' di panggung Eropa.



MUBA yang menjadi agenda tahunan Messeplatz, kota Basel dan telah dikenal penduduk mancanegara ini memberi spot khusus untuk Indonesia unjuk khasanah budaya nusantara dengan tajuk "Remarkable Indonesia". Tahun ini, MUBA (22/2-3/3) berlangsung  dengan pameran akbar dari berbagai negara, serta tontonan panggung kesenian mulai dari tradisi sampai modern. Segala rasa ada di MUBA. Dari Indonesia sendiri, pameran seni rupa, tenun, batik, kuliner membentuk barisan yang digarap homey (seperti berada di rumah). Lalu seni pertunjukannya sengaja didatangkan dari 4 propinsi, Jawa Timur, Bali, DkI Jakarta, dan Sumatera Barat.

Harmonisasi gerak dan musik dari Galang Performing Art.


Galang Performing Art (GPA) menampilkan 4 tarian, silat, dan paket musik tradisi. Semua terangkum dalam Paket Kesenian Anak Nagari Minangkabau. Deslenda selaku pimpinan dan koreografer telah merancang pertunjukannya dengan tim yang sangat mini. 4 penari dan 2 pemusik termasuk 1 penampilan dari Deslenda sendiri. Namun, itu tidak jadi persoalan karena GPA pun mampu menembus udara musim dingin Swiss yang menusuk menampilkan karya-karyanya bergantian di 2 panggung utama, Media Stage dan Pavilion Stage.

"Baindang", "Bapiriang", "Bapayuang", serta "Bagurau" adalah 4 tari yang mengundang decak kagum para bule. Segala properti tari dan musik serta kostum telah dipersiapkan dari kampung halaman. Tim GPA seolah tak merasa berada di panggung akbar dunia, nuansa tradisinya amat kuat sehingga seperti tampil di nagari sendiri. 4 tari dengan 4 penari memang mini, tapi yang mini itu justru dilahap dengan antusias oleh kaum bule dan pengamat seni di sana.

Tari Bagurau dengan kostum kuning berpadu ungu.


Selain tarian, ada pula penampilan Silek Nagari (Silat) yang dimainkan oleh Deslenda bersama 1 penarinya, Nike. Gerak-gerak silat dipertunjukkan dengan bersih. Posisi menyerang dan posisi bertahan dengan sederhana diadu oleh kelihaian Deslenda dan Nike mengungkap gerak. Penonton yang rata-rata berkulit putih dan berhidung mancung itu pun seperti menahan napas melihat dua perempuan Minang ini berlaga. Bukan Deslenda namanya jika tidak melakukan improvisasi. Di luar skenario, Deslenda mengeluarkan jurus Silek Harimau untuk mendapatkan klimaks penampilan itu. Gayung bersambut, lawannya pun mulai memainkan sorotan matanya untuk berkomunikasi lebih lanjut dan menangkis serangan-serangan 'buas' tersebut.

Tari Baindang dengan tatanan busana bernuansa Islami.


Musik Tradisi mampu mengguncang venue penuh haru.


Musik tradisi mendapat agenda khusus untuk unjuk gigi. Tim pemusik yang cuma 2 orang ini dan digawangi oleh Susandra Jaya membawa suasana haru seisi venue. Tabuah gandang, talempong, saluang, bansi, hentakan tangkelek (sandal yang terbuat dari kayu) dan nyanyian anak Nagari sungguh berbau tradisi. Alunan musik-musik itu serasa merasuk ke dalam kerinduan panjang orang Indonesia yang berdiaspora di sana. Penonton lain pun mendengar dengan khidmat sebuah khasanah lain dari negeri Nusantara itu. GPA membawa angan mereka terbang jauh ke ranah Minang.  Ada yang kurang sebenarnya, tapuak galembong (tepukan khas dari celana galembong yang biasanya lewat gerakan randai) belum membahana di negeri sana.

Tari Bapiriang menampakkan keanggunan sekaligus keperkasaan.

Tari Bapayuang yang gemulai, ditampilkan dengan ayu dan ceria.

Serangkaian pertunjukan GPA ditampilkan selama 4 hari berturut-turut hingga hari penutupan tiba. Ada makna lain dari paket kesenian yang diboyong Deslenda ini di luar nilai-nilai budaya Minang yang dikandungnya. Paket pertunjukan itu juga mewakili serangkaian peragaan busana yang tanpa sadar mewarnai venue. Lewat tarian, laga silat, dan  tampilan musik tradisi secara live itu, GPA membawa khasanah lain dari ranah Minang, yaitu kostum lengkap dengan aksesorisnya. 4 tarian yang ditampilkan berulang-ulang divariasikan dengan konstum yang berbeda. 4 hari dengan 4 tari. 4 hari dengan 4 varian kostum pula. Begitu juga dengan pemusik. Kostum yang berwarna-warni berganti-ganti diimbuhi kain selempang tenunan, sunting, aksesoris, selendang penutup kepala, destar menjadi kekayaan tersendiri di sepanjang penampilan GPA. Penampilan yang tanpa sadar berwujud peragaan busana ini memberikan inspirasi tersendiri bagi masyarakat Eropa yang peka dengan fashion dan style.

Foto bersama pihak KBRI dengan perwakilan tim GPA dan Dinas Pariwisata.


Menyadari kekayaan lain itu, GPA semakin percaya diri menggelar 'pestanya' di hari penutupan MUBA. Karena bertepatan dengan hari Minggu, venue dipadati oleh masyarakat Basel dengan keluarga mereka serta pengamat dan pencinta seni dari penjuru Eropa. Deslenda tidak mau meninggalkan kesan garing dan biasa saja dalam penutupan itu. Segalanya ditampilkan dengan maksimal dan tentu saja sedikit variasi dan improvisasi. Semua pergelaran telah ditampilkan 3 hari sebelumnya, sementara penonton bisa saja bosan dengan penampilan yang sama.

Tak cukup dengan variasi kostum yang selalu berganti, Deslenda memberi sentuhan pada tari piring yang digarapnya. Pada segmen kedua, setelah makan siang, tari piring kembali ditampilkan. Segmen ini adalah titik teramai venue. Seisi Venue tiba-tiba saja dikejutkan oleh dentingan piring pecah. Bukan dari pecahan piring yang diinjak penari. Bukan. Ini berbeda. Saat gerak terakhir tari piring tersebut, para penari dengan sengaja mengadukan piring di kedua tangan dengan keras, lalu menghamburkannya ke atas hingga pecahannya bertebaran. Sedetik penonton shock, sedetik lagi semua hening, sedetik kemudian stand up applaus membahana.

Keceriaan tari payung yang bersahabat.

Penonton dan penari tampak kompak bersilang budaya.


Pertunjukan itu belum selesai. Deslenda masih mau bermain ide dalam variasinya. Tari  yang mengakhiri dan menutup Remarkable Indonesia sekaligus penutupan MUBA adalah tari payung. Tarian ini melibatkan penonton naik ke panggung. Penonton cilik pun tak mau ketinggalan. Tanpa diminta, mereka langsung menyerbu ke atas dengan senangnya. Dengan selendang dan payung, semua penari memperagakan nilai-nilai keindahan dari tari payung itu sendiri. Pada akhirnya kita melihat tujuan penampilan ini  sifatnya adalah hiburan dan ditutup dengan hiburan bersahabat dari GPA. Hari penutupan menjadi klimaks Paket Permainan Anak Nagari Minangkabau di Basel.


Tulisan ini adalah catatan penampilan Galang Performing Art di MUBA, Basel, Swiss bulan Februari dan Maret lalu.
Ditulis oleh Sulung Siti Hanum.

Senin, 25 Maret 2013

Harry Potter #3: Selamatkan Hippogriff

Sebuah Review Buku seri Ketiga Harry Potter.

Harry Potter dan Tawanan Azkaban
Judul Asli : Harry Potter and The Prisoner of Azkaban

The Story
Harry Potter kini sudah 13 tahun. Tapi ini ulang tahun di musim panas yang sepi karena Ron Weasley sahabatnya sedang berlibur ke Mesir, serta Hermione Granger juga liburan ke Paris. Hari-hari Harry yang sepi selama di Privet Drive tidak membuat moodnya membaik. Keluarga Dursley kedatangan tamu, Bibi Marge yang gendut dan menyebalkan. Bibinya itu terus mengata-ngatai Harry sebagai anak bodoh, nakal, dan tidak berbakat. Hinaan yang bertubbi-tubi itu membuat Harry naik pitam hingga tanpa sadar ia menggelembungkan bibinya sendiri sampai membesar dan terbang ke udara.

Saat kekacauan terjadi di rumah Privet Drive itu, Harry langsung bergegas untuk kabur. Ia tidak peduli sangsi pengeluaran dari sekolah lantaran melakukan sihir di bawah umur di luar Hogwarts. Yang pasti, kesepian Harry tidak untuk diisi dengan hinaan semacam itu. Malam-malam berjalan di daerah Little Whinging itu, Harry dikagetkan oleh seekor anjing besar hitam. Pada menit itu juga muncul pula sebuah bus megah.

Ada Bus Ksatria yang siap sedia mengantarkan penumpang penyihir saat dibutuhkan. Harry langsung naik dan menuju arah London. Harry yang tadinya pasrah mendapat hukuman, tidak jadi dikeluarkan dari sekolah. Cornelius Fudge, Menteri Sihir telah menunggunya di London. Harry dibebaskan dari tuduhan yang tentu saja membuat heran sekaligus mencurigakan.

Alasannya adalah karena Harry diduga menjadi incaran buronan Azkaban nomor 1 saat itu, Sirius Black. Ketakutan dan kemarahan mendekap Harry. Teror tentang kematian orang tuanya mulai dibicarakan kembali. Saat dendam kepada Sirius mulai terbersit di benaknya, Harry menerima 1 kenyataan baru lagi; bahwa Sirius Black adalah walinya. Kegalauan Harry semakin memuncak. Semakin ingin ia membunuh orang yag mengkhianati orang tuanya itu.

Pada  tahun itu Hogwarts dijaga ketat oleh penjaga penjara Azkaban yang mengerikan, Dementor. Namun, tidak selamanya hari-hari Harry mencekam, masih ada PR, masih ada latihan dan pertandingan Quidditch, masih ada keisengan Draco Malfoy, masih ada kekonyolan si kembar Fred-George Weasley. Selain itu masih ada pula 2 sahabat, Ron dan Hermione yang siap ada untuknya. Meskipun tahun ketiga di Hogwarts ini hubungan mereka bertiga diuji cuma karena si tikus Scabbers milik Ron diincar habis-habisan oleh Crookshank milik Hermione.

Pada tahun ketiga ini, mereka diajar oleh guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam baru, Profesor Remus Lupin. Beliau ramah, punya strategi jitu dalam mengajar, dan berbaik hati mengajarkan Harry mantra Patronus untuk mengatasi Dementor. Harry merasa terganggu dengan makhluk mengerikan sekelas Dementor yang menyerap kebahagiaan seseorang dan paling kejam menghisap jiwa manusia melalui Kecupan Dementor.

Belum cukup dengan kehadiran Dementor, Hogwarts langsung diteror dengan kehadiran Sirius Black yang masuk diam-diam. Sirius mencari sesuatu. Tapi yang pasti bukan Harry Potter. Saat bertatap langsung, Harry menerima 1 kenyataan yang tak pernah diduganya, berhubungan dengan Profesor Lupin, Sirius sendiri, dan Scabbers.

Review
Novel ketiga seri Harry Potter ini mulai mengarah ke dunia sihir yang kelam. Setelah  2 novel sebelumnya yang masih dalam tataran pengenalan tokoh dan berbagai ilmu sihir serta rahasia-rahasia di Hogwarts, kini kisahnya berlanjut lebih mencekam dan lebih penuh teror lagi. Sebelumnya Harry pernah berhadapan dengan Basilisk, satwa kuno dunia sihir, di tahun ketiga ini Harry jatuh bangun menghadapi Dementor. Mungkin jika Harry bisa memilih, mending bertarung menghadapi Basilisk atau Voldemort langsung daripada makhluk sekeji Dementor yang menyerap habis kebahagiannya.

Di novel ini pula, kisah persahabatan Harry, Ron, dan Hermione diuji. Peralihan emosi mereka dari anak-anak ke masa-masa remaja pada usia ke-13 jelas tergambar di novel ini. JK ROwling menggambarkan pertengkaran-pertengkaran trio sekawan ini terasa wajar, malah justru menjadi lucu (setelah saya re-read).

Tahun ketiga di Hogwarts ini, Harry juga merasakan kenyamanan dari sosok baru yang dikenalnya: Profesor Lupin, si manusia srigala yang merupakan salah satu sahabat baik ayahnya, serta Sirius Black sendiri yang disangka semua orang pembunuh orang tuanya justru malah sebaliknya. Kassih sayang yang singkat pada akhir cerita terasa mengharukan sekaligus menyesakkan. JK Roowling berhasil membuat saya ingin kembali memutar pembalik waktu milik Hermione biar Sirius terbebas dari segala tuduhan. Saya masih deg-degan saat Harry dan Hermione menyusuri hutan dalam misi penyelamatan 2 nyawa seperti yang dikatakan oleh Dumbledore, Hippogriff dan Sirius.

Magic Quote
Magic Quote di novel ini mungkin tidak sebanyak di 2 novel sebelumnya. Tapi kisahnya sebenarnya menyimpan banyak quote tak tersurat buat pembaca.

Konsekuensi tindakan kita selalu begitu rumit, begitu beragam, sehingga meramalkan masa depan sungguh sangat sulit

Tulisan ini diikutkan dalam Hotter Potter Reading Event

Minggu, 24 Maret 2013

Rumah Itu Kamu

Tak ada kata sesulit ini
Begitu banyak sua-ku dengan kata
sua-ku dengan makna
Tapi kataku sua-mu
Berderet dalam rekam panjang pikiranku
Salahku jika sederet kata ini
belum kumaknai?
Tinta pena pun tak mumpuni menyambangi

Kataku adalah sua-mu
Sua dengan mu
Kataku adalah rumahku
Rumahku adalah kamu

Tebet, dini hari, 240313
Sansadhia

Senin, 25 Februari 2013

Harry Potter #2: Bisikan Maut Basilisk


Sebuah Review Buku seri Kedua Harry Potter.

Harry Potter dan Kamar Rahasia
Judul asli: Harry Potter and The Chamber of Secrets


The Story
Adalah mimpi buruk bagi Harry Potter yang harus menghabiskan liburan musim panas di rumah keluarga Dursley. Hal yang paling dinantikannya adalah tanggal masuk sekolah karena cuma sekolah sihir Hogwarts yang memberikan rasa nyaman dan kegembiraan padanya, terlebih lagi dengan adanya 2 sahabat, Ron Weasley dan Hermione Granger.

Eits, tunggu dulu. Kenapa mereka tidak mengirimkan surat via pos burung hantu satu pun sejak liburan dimulai buat Harry? Usut diusut, ternyata ulah Dobby si peri rumah yang sengaja menyembunyikan semua surat yang dialamatkan pada Harry Potter.

Meski mereka belum saling kenal, Dobby yang kagum dengan Harry Potter berniat menahan Harry untuk kembali ke sekolah. Dobby mengetahui sebuah rencana gelap yang didengarnya dari tuannya, keluarga tempat ia mengabdi, menyangkut keselamatan Harry. Sebuah Kamar Rahasia di Hogwarts akan dibuka. Itu pertanda bahwa Pangeran Kegelapan mengincar nyawa Harry Potter.

Dobby terus berusaha menahan Harry untuk naik Hogwarts Ekspress. Namun, Harry bersama Ron memilih menggunakan mobil terbang milik Ayah Ron ke Hogwarts. Usaha Dobby tidak berhenti sampai di situ. Misi penyelamatan Dobby justru hampir mencelakakan nyawa Harry. Namun, masih ada bahaya lebih besar yang dihadapi Harry di tahun keduanya itu.

Serangkaian peristiwa teror terjadi di Hogwarts. Harry mendapati beberapa murid di Hogwarts membatu, termasuk Hermione. Harry pun mendengar suara-suara bisikan mirip suara ular, tapi anehnya cuma dia yang mendengar. Siapa yang menyebabkan itu terjadi? Teror itu mengarah pada dibukanya Kamar Rahasia yang konon cuma menjadi legenda di Hogwarts. Lalu apa hubungannya dengan Ginny Weasley?

Review
Harry Potter dan Kamar Rahasia adalah seri kedua dari novel fantasi karangan JK Rowling. Novel ini menceritakan petualangan Harry Potter pada tahun keduanya di Hogwarts. Tentu saja dengan dibantu oleh 2 sahabatnya, Ron Weasley yang setia dan Hermione Granger yang cerdas. Seperti novel sebelumnya yang penuh karakter, JK Rowling  memperkenalkan karakter baru yang peranannya amat penting di sepanjang cerita. Gilderoy Lockhart menjadi Guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang tampan dan ditaksir banyak murid perempuan termasuk Hermione. Namun, Gilderoy yang gila popularitas, justru sebenarnya menutupi kelemahan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa dan seorang penipu. Bagi Harry dan Ron, Profesor Lockhart adalah guru yang menyebalkan.

Di seri kedua ini kita mendapati petualangan Harry semakin gelap dan berbahaya. Namun semua itu tidak menciptakan kesan horror dalam ceritanya karena berbagai kekonyolan yang dilakukan Ron Weasley, kepintaran Hermione yang kadang-kadang agak menyesakkan, serta hiburan dari Fred dan George Weasley, saudara Ron yang iseng.  Selain itu masih ada pertandingan Quidditch, tugas-tugas sekolah yang banyak, serta kenyamanan ruang rekreasi yang selalu ramai.

Tapi pada intinya semua peristiwa saling terkait mengantarkan kita ke petualangan Harry melawan Basilisk. Kehadiran Dobby yang tiba-tiba, kesukaan Hagrid pada satwa-satwa gaib, tingkah Draco Malfoy yang selalu memusuhi Harry, ke-soktahu-an Profesor Lockhart, serta kebijaksanaan Dumbledore. Harry tidak bisa tinggal diam karena Hermione jadi salah satu korban. Dia juga penasaran dengan segala bisikan-bisikan di kepalanya. Harry makin terdesak untuk bertindak saat mengetahui Ginny Weasley dibawa ke Kamar Rahasia.

JK Rowling sangat pintar membangun alur cerita dari awal sampai akhir. Walaupun sudah membaca berulang kali, tetap saja saya sering dibuat terkejut dengan alurnya. Rasa penasaran saat membaca dimulai dari kemunculan Dobby di Privet Drive. Menurut saya, buku kedua ini tergolong pada kisah misteri yang baru terjawab di bagian akhir. Tentu saja berbeda dengan novel pertamanya yang masih tahap pengenalan karakter dan lika liku dunia sihir melalui sekolah Hogwarts.

Magic Quote

Jangan pernah mempercayai apa saja yang bisa berpikir sendiri kalau kau tidak bisa melihat di mana otaknya disimpan.

Yang terbaik dari kita pun kadang-kadang harus menarik kembali kata-katanya.

Pilihan kitalah yang menunjukkan orang seperti apa sebenarnya kita, lebih dari kemampuan kita.


Review ini diikutkan dalam event Hotter Potter Reading Event.

Senin, 28 Januari 2013

Harry Potter #1: dari Bocah Culun Menjadi Anak-Yang-Bertahan-Hidup


Sebuah Review Buku seri Pertama Harry Potter.
Judul Asli : Harry Potter and The Sorcerer's Stone
Judul Terjemahan : Harry Potter dan Batu Bertuah
Pengarang : J.K. Rowling
Tahun terbit (pertama kali) : 2000


Sinopsis
Harry Potter, bocah 11 tahun yang tinggal di Privet Drive secara tak terduga mendapati dirinya adalah seorang penyihir. Bukan tanpa sebab, karena sebenarnya dia punya orang tua penyihir hebat sebelum mereka meninggal. Harry Potter tidak mengetahui apa-apa tentang sejarah orang tuanya itu. Dia yang diasuh oleh paman dan bibinya, keluarga Dursley, tidak pernah diberitahu soal itu karena telah dianggap aib keluarga.

Sampai pada suatu hari, Harry menerima surat dari sekolah sihir Hogwarts yang menyatakan dirinya telah terdaftar di sekolah itu dan akan mulai belajar di sana tahun ajaran baru. Hagrid (kelak menjadi teman Harry) yang menjemput Harry untuk mengantarnya membeli perlengkapan sekolah menjelaskan panjang lebar tentang kemampuan tak terduga di dalam diri Harry Potter itu, serta bagaimana ia bisa mendapat bekas luka berbentuk sambaran petir di dahinya.

Mulai hari itu, kehidupan Harry pun berubah, bukan anak culun, muggle (sebutan penyihir untuk manusia non-penyihir), dan polos lagi. Mulai saat itu pula, Harry Potter mendapati dirinya istimewa karena dia terkenal sejak lahir lantaran ia adalah anak yang bertahan hidup dari serangan maut penyihir gelap dan ditakuti, Lord Voldemort. Mendapati identitas baru dirinya yang tiba-tiba itu membuat Harry canggung. Namun, di sisi lain, Harry menemukan kehidupan dan keluarga baru di Sekolah Sihir Hogwarts. Harry mulai akrab dengan Ron dan Hermione, teman seasramanya di Menara Gryffindorr.

Ada lebih banyak lagi kejutan di sekolahnya yang baru, Hogwarts. Salah satunya adalah bahwa dia memiliki bakat alam untuk menjadi Seeker (pencari Snitch) dalam permainan Quidditch (Olahraga sihir mirip sepak bola yang dimainkan di atas sapu terbang).

Jalannya tidaklah mulus. Harry seringkali mendapatkan hukuman karena dianggap bermasalah, melanggar jam malam, dan seringkali kedapatan berkelahi dengan Draco Malfoy, musuhnya dari asrama Slytherin. Harry juga menemui kesulitan dengan pelajaran-pelajaran baru yang tidak mudah, apalagi pelajaran Ramuan lantaran gurunya, Profesor Snape punya dendam pribadi kepadanya. Akan tetapi semua itu belum apa-apa dibanding saat Harry dihadapkan dengan Voldemort untuk kedua kalinya.

Review
Saat membaca ulang kisah Harry Potter yang pertama ini saya menemukan sensasi baru, seakan baru membaca pertama kali. Bedanya, saya sudah lebih dulu tahu inti ceritanya. Tapi tetap saja, pertama kali mengenal Harry Potter itu sekitar tahun 2001. Saya dapat menyerap kisah dari novel keren ini dari sudut pandang saya yang masih anak-anak waktu itu. Saat baru saja membaca ulang, terasa sekali riak-riak emosi dari setiap karakternya. Saya tidak bisa bohong, bahwa saya kembali terhanyut dengan petualangan Harry, Ron, dan Hermione ini. JK Rowling, saya akui, adalah penulis luar biasa dengan imajinasinya menghadirkan beragam karakter dengan detail serta setting dan alur yang konsisten.


Di Harry Potter dan Batu Bertuah ini, pembaca diperkenalkan karakter satu demi satu, tak terkecuali keluarga Dursley yang menyebalkan dan guru-guru Hogwarts yang beragam. Di sini saya menyadari, JK Rowling itu hebat dalam menyelipkan narasi karakternya tanpa membuat pembaca bosan. Tutur bahasa penerjemah yang lugas juga mempengaruhi pengisahannya.

Tokoh Harry Potter digambarkan sebagai tokoh yang tidak terlalu pintar dalam pelajaran tetapi memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berani, dan setia kawan.  Karakter Ron Weasley yang menjadi sahabatnya serta Hermione Granger yang cerdas tetapi sedikit menyebalkan mengisi ruang emosi kita pada saat membaca kisah ini.

JK Rowling telah memikirkan berbagai aspek sihir yang dimasukkannya ke dalam novel pertama ini. Perlahan, kita pun mendapatkan setting dan tokoh yang nantinya akan mengambil peranan besar di buku-buku selanjutnya, seperti kehadiran Ginny Weasley saat mengantar kakak-kakaknya ke Hogwarts Ekspress dan bertemu dengan Harry Potter. Di novel-novel berikutnya tentu saja Ginny akan selalu muncul hingga seri terakhir. Begitulah cara JK Rowling menjaga karakternya dengan baik untuk dikeluarkan sesuai porsinya di masing-masing novel, sehingga tidak ada karakter yang sia-sia dari sekian banyak deretan karakter yang dimunculkannya.

Novel pertama ini memberikan makna tentang keberanian, kebulatan tekad, cinta, dan persahabatan.

Magic Quotes
Buku seri pertama ini menyimpan banyak magic quote yang bisa kita maknai

Musik lebih magis dari segala yang kita pelajari di sini.

Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa dialami bersama tanpa kalian jadi saling menyukai

Tak ada gunanya memikirkan impian berlama-lama sampai lupa hidup

Kerja keras dan penderitaan adalah guru yang paling baik

Ada bermacam-macam keberanian, perlu banyak keberanian untuk menghadapi lawan, tetapi diperlukan keberanian  yang sama banyaknya untuk menghadapi kawan-kawan kita

Dalam hidup ini kita tidak bisa mendapatkan segalanya

Bagi pikiran yang terorganisir dengan baik, kematian hanyalah petualangan besar berikutnya

Uang dan kehidupan adalah hal yang akan dipilih kebanyakan orang, melebihi segalanya yang kauinginkan, sulitnya orang biasanya justru memilih hal yang paling buruk untuk mereka

Selalu gunakan nama yang benar untuk apa saja. Ketakutan akan nama memperbesar ketakutan akan benda itu sendiri.

Kebenaran itu indah dan mengerikan. Karenanya harus diperlakukan dengan amat hati-hati.

Dicintai begitu daam, meskipun orang yang mencintai kita sudah tiada, akan memberi kita perlindungan untuk selamanya. Sungguh penderitaan menyentuh orang yang dilindungi oleh sesuatu yang sangat baik.


Review ini diikutkan dalam event Hotter Potter



Rabu, 16 Januari 2013

Sepotong Senyum untuk Sahabat

Sepotong senyum untuk sahabat
mengamini sejuta doa
Tak ada alasan untuk tak bahagia

Sepotong musim untuk sahabat
turut mengantarmu ke suatu hari yang dinanti
tersedia lembar kosong pengawal kisah

hari menepi
senja pun mengerti
labuhan bertepi hati
pun akhirnya tempat berpisah kita
demi segurat harapanmu berdua

Sepotong mimpi untuk sahabat
sisipkan selembar cerita
untuk kau bagi
kau resapi
bahwa di sini kami ada
bersenda, tertawa, mengirim sejumput nur
untukmu



Sepotong puisi untuk pernikahan sahabatku...

Jumat, 14 Desember 2012

Harry Potter Reading Event



Harry Potter: A Harry Potter Reading Event (Indonesia)

1 Januari - 31 Juli 2013

Senangnya dapat mengenang kembali kisah ini. Harry Potter gak pernah basi. Mari baca ulang lagi novelnya. Harry Potter dalam genggaman.

Jadwal post review 
28 Januari 2013 Buku 1: Harry Potter and the Sorcerer’s Stone
25 Februari 2013 Buku 2: Harry Potter and the Chamber of Secrets
25 Maret 2013 Buku 3: Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
29 April 2013 Buku 4: Harry Potter and the Goblet of Fire
27 Mei 2013 Buku 5: Harry Potter and the Order of the Phoenix
24 Juni 2013 Buku 6: Harry Potter and the Half-Blood Prince
31 Juli 2013 Buku 7: Harry Potter and the Deathly Hallows (bertepatan dengan ulang tahun Harry)