"Indahmu tak seindah pikirmu, cerahmu tak secerah matamu. Tapi kau tahu kau salah, mengapa kau membisu?"

Jumat, 03 Mei 2013

Harry Potter #4: Bertahan Hidup (Sekali) Lagi

Sebuah Review Buku seri Keempat Harry Potter.

Harry Potter dan Piala Api
Judul Asli: Harry Potter and The Goblet of Fire
Penulis: JK Rowling


Novel keempat dari seri kisah Harry Potter ini telah memasuki babak 'agak seram dan kelam'. Kalau di buku ketiganya, Harry Potter baru menerima sekelumit terror tentang dirinya, di buku ini terror itu menjadi nyata dan menjadi awal kisah Harry Potter berhadapan langsung dengan Voldemort dan Pelahap Maut.

Sebermula adalah Turnamen Triwizard di Hogwarts. Turnamen yang bersaing dengan sekolah Beauxbatons dan Durmstrang ini khusus buat siswa berumur 17 tahun ke atas. Tapi entah kenapa nama Harry Potter keluar dari piala api saat seleksi  3 nama peserta yang akan mewakili sekolahnya. Jadinya, peserta Triwizard tahun itu diikuti oleh 4 orang juara: Fleur Delacour dari Beauxbatons, Viktor Krum dari Durmstrang,  lalu Cedric Diggory dan Harry Potter dari Hogwarts. Keheranan semua orang berujung pada ejek-ejekkan yang ditujukan ke Harry.

Lagi-lagi Harry dibicarakan oleh 1 sekolah bahkan sampai ke seluruh dunia sihir. Harry memang tidak bisa mengelak dari masalah sepertinya. Dan masalahnya itu semakin besar di tahun keempatnya di Hogwarts. Rita Skeeter, si wartawan Daily Prophet dengan senang hati mengumbar gosip-gosip seputar Harry, si anak yang bertahan hidup. Tapi tentu saja itu semua bohong belaka. Beberapa tokoh lain bermunculan di novel ini, seperti guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang baru, Mad-Eye-Moody (palsu) yang aslinya adalah Mr. Crouch junior yang menyamar.

 Untung ada Hermione dan Ron yang selalu meringankan bebannya. Masih ada lagi Dumbledore dan Sirius Black yang selalu menjadi penasihatnya. Harry selalu dikelilingi orang-orang yang masih peduli padanya. Namun, meski begitu, Turnamen harus tetap dijalani.

Apa saja tantangan Harry? Turnamen pertama, Harry harus berhadapan dengan naga ekor berduri Bulgaria. Beruntung dia memiliki sapu tercepat sepanjang masa, firebolt. Pada tugas kedua, Harry bertarung dengan para duyung yang menculik sahabatnya di danau. Lalu tugas ketiga, Harry harus masuk ke dalam labirin berisi banyak monster. Di dalam labirin itu pulalah Piala Triwizard diletakkan. Tugasnya sepertinya mudah. Harry tidak berambisi untuk menang, tetapi dia sangat ingin menyelesaikan permainan itu. Menjelang akhir juara yang tersisa adalah Harry dan Cedric. Mereka menyentuhkan tangan ke piala bersama-sama. Pikir Harry, toh yang menang memang Hogwarts, jadi tak ada bedanya antara ia dan Cedric.

Siapa sangka Piala Triwizard telah diubah menjadi Portkey. Siapa sangka pula Harry Potter harus menjalani rintangan ke-4 yang telah di-set khusus untuknya, yaitu menyaksikan kebangkitan Voldemort dan bertarung dengannya. Siapa sangka pula, pada saat itu Cedric dibunuh mati.

Novel keempat ini selalu membuat saya merinding. Meski telah membacanya berulang kali, kesan kelam saat prosesi kebangkitan Voldemor sangat terasa. Detail horrornya diceritakan dengan baik oleh JK Rowling. Seketika itu pula, kisah Harry Potter bukan lagi menjadi cerita dongeng untuk anak-anak. Dengan keterbatasan kemampuan Harry, dia harus berjuang melawan sendiri Voldemort yang selalu dikeliling oleh Pelahap Maut. Hanya bermodalkan keberanian serta  mantra 'expeliarmus' dan 'stupefy' Harry akhirnya bisa meloloskan diri dari Pangeran Kegelapan itu dengan membawa jasad Cedric. Dengan hati pilu, Harry tergeletak kembali di tanah Hogwarts. Semua orang bersorak, tapi tak ada yang dapat tahu bagaimana perasaan Harry yang penuh ketakutan saat itu. Harry kembali menjadi anak yang bertahan hidup. Tapi detik itu tak seorang pun  menyadarinya.

Sedikit emosi...
Saya masih merasa sebal dengan tokoh Cornelius Fudge(Menteri Sihir)  karena mengirim Dementor menghisap jiwa Crouch. Lalu saya juga masih kesal dengan perlakuannya terhadap Harry. Ini pembacaan saya yang ke-4 kali untuk novel ini, ending-nya selalu membuat emosi pembaca bercampur baur. Petualangan Harry baru saja dimulai.


Magic Quotes

Ada orang-orang yang akan mengubah kesempatan yang netral menjadi sesuatu yang menguntungkan mereka.

Aneh memang, tetapi jika kau takut akan sesuatu dan bersedia memberikan apa saja untuk memperlambat waktu, waktu malah berjalan semakin cepat.

Pemahaman adalah langkah pertama untuk penerimaan. Dan hanya dengan penerimaan bisa ada penyembuhan.

Waktu tidak melambat jika ada sesuatu yang tak menyenangkan di depan.

Tak ada yang manandingi  jalan-jalan di malam hari untuk mendapatkan ide.



Tulisan ini diikutkan dalam Hotter Potter Reading Chalenge 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar