"Indahmu tak seindah pikirmu, cerahmu tak secerah matamu. Tapi kau tahu kau salah, mengapa kau membisu?"

Senin, 09 Mei 2011

Menapak Jejak Danau Singkarak

Perut Kenyang, Hati pun Senang (Perjalanan penuh Makan)

Ini bukan perjalanan pertama. Sekelompok kecil manusia yang ingin menjelajah, menyentuh dan mengecap udara yang lebih segar. Hasrat ini terlepas sudah, tak perlu lama berencana, dadakan pun jadi. Danau Singkarak yang dituju. Tak perlu ragu untuk penginapan, karena telah disiapkan tumpangan di sebuah rumah gadang milik salah satu teman.

Dua perjalanan dengan satu cerita. Perjalanan pertama pada awal tahun 2007. Tanpa berangan-angan untuk kembali lagi, lima tahun kemudian, tepatnya April 2011, kami mengulangin perjalanan yang sama. Menapaki jejak yang pernah kami toreh di jalanan sana. Tak sekadar keindahan yang dicari, tapi satu bulatan tekad untuk sebuah kebersamaan.

Untuk satu kata liburan, tak perlu mahal, tak perlu mewah, tak perlu banyak barang. Cukup dengan menikmati apa yang ada di sekitar kita. Itulah yang kami lakukan. Trip ke SIngkarak yang dua malam itu memuat kisah yang beragam. Ada kisah menarik yang dapat dikulik.

Tujuan perjalanan memang mengenang langkah yang pernah dijejakkan di sini lima tahun yang lalu. Dengan lokasi yang sama, penginapan yang sama, makanan yang sama tak membuat suasana menjadi membosankan. Selalu ada yang baru dibaliknya.
Begitu sampai, kami beristirahat sebentar seraya makan siang di rumah teman kami itu. Sorenya kami langsung ke dermaga. Saat itu dermaga danau sangat ramai dengan orang-orang yang juga sedang berlibur di sana. Kami duduk di pinggiran dermaga sambil melihat ikan bilih yang bergerombol. Aku kagum dengan sinar dari bukit yang mengelilingi danau. Itu adalah cahaya matahari membias di sela-sela awan. Angin kencang bertiup. Kupikir itu badai, tapi bukan. Itu cuma angin sore yang bertiup dari arah danau.

Sebelum magrib, perut yang lapar, kami mencari makan. Ada banyak pedagang yang berjualan. Tapi kami punya tempat langganan. Satu piring rujak dan satu mangkok bakso sudah dipesan. Ditemani dengan keripik balado, enam orang yang tengah kelaparan melahap kedua makanan itu sampai tak bersisa. Bukan kenyang yang dicari, tapi kebersamaan saat makan yang dirindukan dari perjalanan ini. Suasana penuh keakraban itu berakhir saat petang berganti malam. Rujak menjadi incaran ketika kami ke dermaga ini, karena memang dulu juga pernah disantap beramai-ramai saat trip Singkarak yang pertama.

Pulang dengan perut kenyang, hati pun senang. Malam datang, rumah gadang menjadi tempat peristirahatan. Dalam perjalanan, tak hentinya aku menatap langit. Langit ditaburi gemintang. Aku hanya bisa terkagum-kagum melihat langit malam itu. Rasanya ingin duduk di luar dan menikmati pemandangan yang langka itu. Namun, kami masih punya agenda selanjutnya. Malam terlalu sayang untuk dilewatkan dengan tidur. Oleh karena itu, kami mengeluarkan berbagai cemilan yang telah disiapkan sebelumnya, lalu mulai mengocok kartu. Sama dengan trip pertama, kami menghabiskan malam dengan canda-tawa dalam permainan. Bedanya, kalau dulu kartu remi, malam itu kami bermain kartu uno. Selebihnya sama, suasananya sama, lampu yang remang-remang, riuhnya, bahkan reward dan punishment-nya juga sama. Kami bermain hanya sampai tengah malam. Pikiran mulai keruh karena lelah dan mengantuk. Akhirnya kami menyerah dengan waktu, masing-masing mengambil posisi, siap dibuai oleh mimpi.

Pagi-pagi, meskipun keluhan di sana-sini karena masih mengantuk, kaki pun dilangkahkan keluar rumah. Tujuan kami pagi itu adalah panorama Singkarak di puncak bukit. Sambil bersenda gurau kecil, pelan-pelan kami mendaki bukit yang sebelumnya juga pernah kami tapaki. Awalnya pendakian berjalan lancer, tetapi di tengah jalan ada sedikit masalah. Badan mulai lelah. Panas semakin terik. Usut-diusut, ternyata pangkal masalahnya adalah perut yang belum diisi. Hanya ada dua pilihan, tetap mendaki dan meneruskan perjalanan, atau berbalik arah turun untuk mencari warung terdekat di bawah sana. Kami pun memilih untuk turun. Turun terasa lebih ringan dengan perut yang lapar, daripada mesti mendaki terus yang akan lebih menguras tenaga. Pendakian terhenti begitu saja. Matahari telah menguras semangat kami pagi itu. Tapi untung memang gampang diraih jika tekad awal telah bulat. Ada mobil lewat yang searah dengan perjalanan ke panorama. Sopirnya dengan senang hati memberi tumpangan kepada kami. Dalam beberapa menit, panorama sudah di depan mata. Ada warung kopi yang berdiri di sana. Kami beristirahat di sana sambil memesan teh manis hangat dan mie instan untuk mengganjal perut yang lapar.

Selesai makan, kami berjalan ke pinggir panorama. Ada jurang curam yang bermuara ke danau SIngkarak. Sangat sayang jika suasana saat itu tidak diabadikan dalam kamera. Puas bermain-main di panorama, saatnya kembali turun. Berbekal dua botol air mineral, kami meluncur turun bukit. Panas siang semakin membakar. Dua botol air mineral untuk dahaga lima orang terasa kurang ternyata. Tapi itulah indahnya berbagi. Berharap, begitu sampai rumah gadang, akan ada air menanti. Rasanya ingin menyelam di dalam danau. Oh, segarnya. Tapi saat itu, kami hanya diguyur oleh keringat.

Sesampai rumah gadang, kaki diselonjorkan. Air di kamar mandi menipis. Kami harus rela mengantre untuk mandi atau sekadar bersih-bersih. Istirahat siang itu harus diganggu oleh suara perut yang bernyanyi dan berkelontang.Pertanda sudah saatnya makan siang. Ibu dari teman kami itu telah menyiapkan makan siang. Santap siang bersama di hari yang terik seperti siang itu sungguh terasa sedapnya.
Selesai makan, kami mampir ke dermaga. Bersiap-siap untuk pulang ke Padang. Perjalanan pulang tak kalah menarik kisahnya. Sore-sore menunggu angkot untuk transit di kota Solok. Lalu, niat membeli es krim, tapi tergoda dengan sate periaman. Mampir dulu sejenak di Solok untuk makan sate. Setelah itu, perjalanan pun dilanjutkan. Minibus ke Padang sudah jarang. Sholat magrib di sebuah pom bensin, lalu menunggu keberuntungan ada relawan yang mau memberi tumpangan kepada kami malam itu. Harapan tak tinggal harapan. Ada mobil berhenti, sopirnya sedang mencari teman dalam perjalanan. Kami pun ditumpangi olehnya. Namun, malang, perjalanan malam itu tidak semulus yang diharapkan. Ternyata sopirnya jago balap. Berlomba-lomba memotong jalanan dengan truk-truk besar, serta travel liar yang memenuhi jalan ke arah Padang. Aku hanya bisa menghirup napas tertahan seraya menatap jalanan yang berkelok-kelok dan berlubang. Sebelah kanan bukit, sebelah kiri jurang, begitu sebaliknya. Si sopir mengemudi dengan seenaknya membanting stir kiri-kanan yang membuat seisi mobil ini berguncang. Pulang ke Padang dengan sopir pembalap liar nan “gila” itu sungguh menjadi akhir perjalanan kami. Yang tersisa hanya penat, dan beberapa di antara kami mengalami cidera betis.

Trip Singkarak kedua ini menjadi pengingat bahwa kami pernah melakukan perjalanan di sini sebelumnya. Selalu ada yang terasa kurang dan hilang. Yang kurang adalah tak sempat mengecap outbond yang ada di dermaga. Yang hilang adalah kesempatan makan durian bersama seperti trip pertama. Mudah-mudahan aka nada trip selanjutnya yang menggugah dan tak kalah berkesan dari perjalanan ini. Tentu saja dengan personil yang sama.

Walaupun perjalanan ini terbilang singkat, ada kesan yang ditinggalkannya. Kesan itu tertinggal di hati, dan masing-masing dapat memaknainya dengan cara berbeda. Bagiku, yang tersisa dari perjalanan itu adalah kebersamaannya, kerinduan akan alam, keakraban, dan keramahan khas urang awak. Aku merekamnya dalam tulisan ini. Makna itu hadir dalam kata-kata yang meluncur di sini.

Sulung Siti Hanum
9 Mei 2011
Mengenang perjalanan ke Singkarak 3-4 April 2011

9 komentar:

  1. haaaaaahhhh...kaan..jd pengen liburan deeeh...kangen ngebolang lagiii..hehhehe..
    sayang nih Num...gda gambar2nya.. klo ada gambarnya,ditampilin aja... biar dapet tuh deskripsi tempatnya... cuma usul, hehehe..

    BalasHapus
  2. ide bagus, tapi lama... ntar deh gw coba...nantikan foto2nya yaa

    BalasHapus
  3. singkarak yang indah....singkarak itu beda ya dengan danau diatas dan danau dibawah?...insyaAllah kesana......semoga. (from tarakan - kaltim)

    BalasHapus
  4. halo iman rabinata
    iya beda. danau singkarak adalah danau terbsar di SumBar. Ayo, silakan dikunjungi kalau berminat. Suka travelling juga ya?

    BalasHapus
  5. ok sob infonya dan salam kenal

    BalasHapus
  6. keren mas buat infonya da semoga bermanfaat

    BalasHapus
  7. makasih gan buat infonya dan salam sukses selalu

    BalasHapus
  8. bagus sob artikelnya dan menarik

    BalasHapus